Sabtu, 31 Januari 2015

Di Separuh Abad Ibuku



Tepat sebulan lalu separuh abad usianya.  Jika kamu bertanya seperti apa sosok ibu yang aku punya, mungkin sama seperti ibumu, dan semua ibu ibu yag ada di dunia. Sosok yang penuh kelembutan, kesabaran, penuh kasih namun terkadang bisa menjadi sosok yang tangguh, keras, dan terkadang beliau bisa berubah menjadi sosok yang sama sekali kamu tidak mengerti. Ya, itulah ibu. Sudah sebulan ini ibuku pergi keluar kota untuk bekerja, meninggalkan kami, suami dan anak anaknya dirumah. Ibuku bukan lah sesosok perempuan yang gila kerja dan lupa akan tanggung jawabnya pada keluarga, tidak sama sekali, dia bukanlah sosok yang seperti itu. Ibuku pergi karena memang harus. Mengorbankan waktu bersama orang terkasihnya untuk menjaga mimpi ku dan adik adiku. Agar kami bisa tetap bersekolah, agar kami tetap bisa mewujudkan mimpi tanpa ada yang membatasi.
Ditinggal pergi walau sejenak oleh ibu membuatku banyak merenung, mengingat ingat petuahnya, merindu akan sosoknya. Aku anak pertama dalam keluargaku dan sosok anak perempuan satu satunya.  Sejak kecil ibu tidak pernah menuntut banyak pada anaknya, “ anak ibu sehat, nurut dan pintar itu sudah rejeki buat ibu.” Begitu katanya. Masih lekat dalam ingatan ibu meluangkan waktunya membawaku ke berbagai macam lomba peragaan busana anak, bukan karena beliau berambisi anaknya untuk menjadi model atau berprestasi, tapi itulah cara ibu membantuku agar aku bisa mengurangi masalah rasa percaya diriku. Ibu juga tidak pernah bawel menyuruhku belajar seperti ibu ibu lain, beliau hanya berkata padaku bahwa belajar itu adalah kebutuhanmu, dan ibu yakin akan segala keputusanku. Hal ini sempat membuatku bingung karena setauku beliau adalah orang yang sangat menomorsatukan pendidikan anaknya, “ibu mungkin tidak bisa memberi bekal kalian harta berlimpah, tapi ibu yakin bekal ilmu yang ibu berikan akan berguna, seperti yang eyang mu berikan pada ibu.”  Setelah dewasa aku baru sadar itu adalah cara ibuku untuk menanamkan tanggung jawab dalam diri anaknya. Merangsang otak dan nurani ku untuk mengolah setiap hal yang akan aku lakukan.  

Ibu selalu bersikap adil pada ketiga anaknya, tidak pernah satu pun dari kami saling merasa iri dengan yang lain. Beliau selalu berusaha menjaga kehangatan yang ada dalam keluarga, aku dan adik adiku sejak kecil jarang bertengkar. Kami hanya bertiga dan harus saling jaga, karena hanya saudaramu itulah yang kamu punya kelak jika bapak dan ibu tidak ada, begitu ujarnya.  Saling peluk dan cium bukan hal yang aneh di keluarga kami, itu pula hal yang aku syukuri, bisa merasakan nikmat kehangatan keluarga seperti itu karena ibuku. Hal kecil yang ternyata tidak ada dalam setiap keluarga, terutama pada saudara yang beda jenis kelaminya seperti aku dan adik adiku.
Suatu hari adiku ditanya ibu tentang kehadiranya dalam les di sebuah lembaga bimbingan belajar. sebelumnya aku dan ibu diam diam kesana untuk memastikan adiku hadir atau tidak. Ketika adiku pulang sore itu ibu bertanya dia les atau tidak, dan adiku menjawab dia datang les. Ibu percaya dan menyuruhku diam kala itu, ketika kutanya mengapa, beliau menjawab “ ya itulah ibu mbak, harus tau, menerima dan percaya anaknya, tidak hanya tau, menerima dan percaya ketika anaknya berkata benar, tapi juga tau, menerima dan percaya ketika anaknya berbohong.”  Aku hanya tertegun menerima jawaban ibu kala. Setidak masuk akal itukah menjadi seorang ibu? Dan mulai mengkhawatirkan sosok diriku yang masih jauh dari ibuku. 

Ibuku bukan sosok malaikat yang sempurna, dia hanya manusia biasa yang juga masih banyak kurangnya. Dia hanya berusaha memberikan yang terbaik yang dia punya meski hasilnya mungkin belum yang terbaik. Dia bukan sosok ibu yang banyak waktu untukmu dan bisa membuat masakan kesukaanmu. Meski begitu aku tak akan kurang cerita untuk menggambarkan sebaik apa ibuku. Ibuku hanya manusia biasa, masih banyak inginya. Dan itu yang membuatku suka sedih ketika melihatnya harus menahan berbagai keinginan demi anaknya. Beberapa hari lalu kutanya apa keinginan terbesarnya saat ini? Beliau menjawab ingin segera menunaikan ibadah haji dan bisa umrah dengan keluarganya. Diberikan kemampuan dan kesempatan untuk mengantarkan anak anaknya menyelesaikan studinya dan menjadi manusia yang mandiri.  Jawaban yang sekali lagi membuatku terhenyak, karena selalu ada kami, anaknya, di setiap pengharapanya.

Aku selalu menikmati dan penasaran tentang apa lagi hal baru yang aku bisa tau dari ibuku. Belakangan setelah aku dewasa aku jadi makin sering mengobrol berdua dengan ibu, mencoba mencari tahu dan memahami setiap ilmu kehidupan yang beliau punya. Obrolan kami jauh berbeda dengan ketika aku kecil dulu, Percakapanku terakhir via telpon dengan ibuku ada sebuah obrolan yang berkesan. Ibu kini memang sering berpesan dan berharap agar aku selalu berusaha memberikan yang terbaik yang aku punya dalam setiap aspek kehidupan sehingga kelak dapat menjadi sosok wanita baik yang tangguh dan selalu ingat pada agamaku. Ketika kutanya mengapa? “Karena apapun cita citamu dan bagaimana kehidupan mu, kelak kamu akan menjadi sosok ibu, yang akan menjadi panutan dan salah satu sumber ilmu anak anakmu.” Jawabnya. Sekali lagi, aku terhenyak dengan jawaban ibuku.

Ahhh membuat tulisan ini makin membuatku rindu pada ibuku. 
Sehat sehat ya bu, salam rindu dari anakmu.

- Penghujung Januari, 2015-

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar